Apa Yang Dimaksud Dengan Najis - Vetezi.In/Wp-Admin/Options-General.Php

Apa Yang Dimaksud Dengan Najis

Dalam ajaran Islam, memahami konsep najis sangat penting untuk menjalankan ibadah secara sah dan menjaga kesucian diri. Najis merupakan segala sesuatu yang dianggap kotor dan tidak suci menurut syariat Islam. Pengetahuan tentang najis dan cara mensucikannya akan membantu kita menjaga kebersihan diri dan memenuhi syarat-syarat ibadah yang kita lakukan.

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang pengertian najis, jenis-jenisnya, cara mensucikannya, hal-hal yang membatalkan najis, serta dampaknya dalam ibadah. Dengan memahami konsep ini secara komprehensif, kita dapat menjalankan ajaran Islam dengan lebih baik dan meraih ketakwaan yang dicita-citakan.

Pengertian Najis

Najis adalah segala sesuatu yang dianggap kotor atau tidak suci menurut ajaran agama Islam. Najis terbagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu najis besar (mughallazah), najis sedang (mutawassithah), dan najis ringan (khafifah).

Sumber Najis

Najis dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain:

  • Air mani
  • Madzi
  • Wadi
  • Darah
  • Kotoran hewan
  • Bangkai hewan
  • Khamr (minuman beralkohol)

Jenis-Jenis Najis

Najis adalah kotoran yang harus dibersihkan menurut syariat Islam. Berdasarkan berat dan ringannya, najis dibedakan menjadi beberapa jenis, masing-masing dengan dampak hukum yang berbeda.

Najis Mukhaffafah

  • Kencing anak laki-laki yang belum berusia dua tahun dan belum makan makanan selain ASI.
  • Madzi (cairan yang keluar dari kemaluan laki-laki saat bergairah).
  • Wadi (cairan yang keluar dari kemaluan perempuan setelah berhubungan intim).

Najis ini dapat disucikan dengan cara dipercikkan air suci.

Najis Mutawassithah

  • Kotoran manusia dan hewan.
  • Darah.
  • Bangkai hewan.

Najis ini dapat disucikan dengan cara dicuci dengan air dan sabun, lalu dibilas.

Najis Mughallazah

  • Air mani.
  • Kotoran babi.
  • Khamr (minuman beralkohol).

Najis ini dapat disucikan dengan cara dicuci dengan air dan sabun sebanyak tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah.

Cara Mensucikan Najis

Dalam ajaran Islam, najis merupakan segala sesuatu yang kotor dan dapat membatalkan ibadah. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui cara mensucikan najis agar ibadah yang dilakukan menjadi sah.

Cara Mensucikan Najis Berat

  • Menghilangkan najis: Bersihkan najis dari tubuh, pakaian, atau benda yang terkena.
  • Mencuci dengan air: Siram bagian yang terkena najis dengan air bersih sebanyak tujuh kali. Untuk najis yang berasal dari darah, air seni, atau feses, disunnahkan untuk menggunakan sabun.
  • Menyemprotkan air: Jika najis sulit dibersihkan dengan air, seperti pada kasus muntahan atau darah kering, dapat disemprotkan dengan air.

Cara Mensucikan Najis Ringan

  • Mencuci dengan air: Siram bagian yang terkena najis dengan air bersih sebanyak tiga kali.
  • Membasuh dengan debu: Jika air tidak tersedia, dapat membasuh bagian yang terkena najis dengan debu atau tanah yang suci.

Perbedaan Istinja’, Wudhu, dan Mandi Besar

Istinja’, wudhu, dan mandi besar merupakan cara bersuci yang berbeda-beda sesuai dengan jenis najis dan kondisi seseorang.

  • Istinja’: Digunakan untuk mensucikan najis kecil, seperti air seni dan feses, dengan cara membasuh bagian yang terkena dengan air.
  • Wudhu: Digunakan untuk mensucikan diri sebelum melakukan ibadah shalat, dengan cara membasuh wajah, tangan, kepala, dan kaki dengan air.
  • Mandi besar: Digunakan untuk mensucikan diri setelah hadas besar, seperti keluarnya air mani, haid, atau nifas, dengan cara mandi seluruh tubuh dengan air.

Hal-Hal yang Membatalkan Najis

apa yang dimaksud dengan najis terbaru

Ketika seseorang dalam keadaan najis, terdapat beberapa hal yang dapat membatalkan najis tersebut dan mengembalikannya ke keadaan suci. Berikut adalah tabel yang merangkum hal-hal yang membatalkan najis:

Pembatal Contoh
Air Mandi, wudu, tayamum
Tanah Menyapu najis dengan tanah
Api Membakar benda yang terkena najis
Matahari Menjemur benda yang terkena najis
Angin Meniup najis yang menempel pada benda

Dampak Najis dalam Ibadah

apa yang dimaksud dengan najis

Najis memiliki dampak yang signifikan terhadap ibadah dalam Islam. Menurut syariat, ibadah yang dilakukan dalam keadaan najis tidak dianggap sah dan tidak diterima. Oleh karena itu, sangat penting bagi umat Islam untuk memahami dampak najis dan memastikan bahwa mereka suci dan bersih sebelum melakukan ibadah.

Sholat

Sholat adalah ibadah yang mengharuskan kesucian baik dari segi badan, pakaian, maupun tempat. Jika seseorang melakukan sholat dalam keadaan najis, maka sholatnya tidak sah dan harus diulang setelah bersuci.

Puasa

Puasa juga mengharuskan kesucian dari najis. Jika seseorang berpuasa dalam keadaan najis, maka puasanya tidak sah dan harus mengganti puasa tersebut di hari lain.

Haji

Haji merupakan ibadah yang memiliki syarat-syarat tertentu, salah satunya adalah kesucian dari najis. Jika seorang jamaah haji melakukan ibadah haji dalam keadaan najis, maka hajinya tidak sah dan harus mengulang seluruh rangkaian ibadah haji.

Ringkasan Akhir

Konsep najis dalam Islam memberikan panduan yang jelas tentang kebersihan dan kesucian. Dengan memahami jenis-jenis najis, cara mensucikannya, dan dampaknya pada ibadah, kita dapat menjaga diri kita tetap bersih dan layak di hadapan Allah SWT. Pengetahuan tentang najis juga membantu kita untuk menghindari hal-hal yang dapat membatalkan ibadah kita dan memastikan bahwa amalan kita diterima dengan baik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu hadas?

Hadas adalah keadaan tidak suci yang disebabkan oleh keluarnya sesuatu dari dua jalan (qubul dan dubur) atau karena bersentuhan dengan najis.

Apa saja jenis-jenis najis?

Najis terbagi menjadi tiga jenis, yaitu najis mughallazah (berat), najis mutawassitah (sedang), dan najis khafifah (ringan).

Bagaimana cara mensucikan najis mughallazah?

Najis mughallazah disucikan dengan cara mencucinya dengan air sebanyak tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah.

Apa saja hal-hal yang membatalkan najis?

Najis dapat batal dengan wudu, mandi besar, istinja, dan tayamum.

Leave a Comment